Berbincang tentang tradisi dan budaya, Indonesia memiliki keduanya dan bisa dikatakan sangat kaya. Ya, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan dalam bentuk yang berbeda, salah satunya kesenian. Nah, diantara banyaknya budaya yang ada di Indonesia tersebut, salah satu yang cukup terkenal dan masih menunjukkan eksistensi hingga saat ini adalah budaya ludruk.

Pernahkah Anda mengetahui tentang budaya yang satu ini sebelumnya?

Secara singkat, ludruk adalah kesenian panggung semacam drama tradisional. Kesenian ini, menurut beberapa catatan sejarah, berasal dari Jawa Timur, atau tepatnya dari daerah Jombang. Bisa dikatakan, ludruk sudah ada sejak puluhan tahun silam yang menjadi salah satu hiburan murah-meriah bagi masyarakat sekitar.

Contoh pakaian pemeran ludruk

Sejarah dan Perkembangan Budaya Ludruk

Berbincang tentang sejarah ludruk, ada cukup banyak literatur yang membahasnya. Salah satu sumber referensi yang bisa dijadikan acuan adalah pendapat dari tokoh budaya S. Wojowasito. Beliau mengatakan bahwa ludruk sudah ada di Jawa Timur dan dikenal luas oleh masyarakat sekitar pada tahun 760 Masehi.

Pada waktu itu, ludruk menjadi hiburan khas yang umumnya juga ditampilkan di pendapa kerajaan untuk mengisi acara tertentu. Salah satu bukti dari pendapat ini adalah adanya prasasti sejarah berupa Candi Badut yang ditinggalkan oleh seorang seniman. Hal inilah yang menjadi dasar jika ludruk dikenal juga dengan nama badutan.

Seiring berjalannya waktu, kesenian ludruk tidak menghilang namun justru berkembang dengan cukup pesat. Kesenian yang menghibur ini sangat mudah diterima oleh masyarakat. Oleh karenanya, hingga saat ini, masih banyak pertunjukan ludruk yang diadakan, terutama di Jawa Timur.

Kini, ludruk hadir dengan perlengkapan yang bisa dikatakan lebih komplit dan menarik. Kostum pemain dibuat sedemikian rupa sehingga bisa mewakili karakter yang diperankan dengan maksimal. Juga, gamelan yang digunakan pun lebih lengkap bahkan juga dikombinasikan dengan alat musik modern untuk menciptakan harmoni yang baru.

Pentas budaya ludruk

Selain itu, cerita dari kesenian ludruk pun cenderung lebih beragam. Cerita-cerita disesuaikan dengan perubahan zaman yang tentu saja membuat kesenian ini bisa sejalan dengan zaman dan tetap diminati oleh generasi modern.

Ludruk dan Kritik Sosial

Ludruk sebenarnya bukan hanya sebagai hiburan semata, melainkan juga sarana untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang berbeda. Cerita-cerita yang ditampilkan dalam ludruk umumnya memang memiliki muatan kritik sosial yang kadang kala cukup kritis, seperti tentang kemiskinan yang melanda masyarakat, pemerintah yang semena-mena, dan lainnya.

Hal inilah yang menjadikan ludruk tidak hanya berisi tentang senda dan gurau saja, melainkan juga sebagai pertunjukan yang berisi pelajaran serta tuntunan. Tidak jarang seseorang mendapatkan pencerahan dalam masalah kehidupan melalui kesenian ini.

Memang, ludruk tidak serta-merta menunjukkan kritik sosial. Para pemain ludruk umumnya menggunakan bahasa satire yang dituangkan dalam judul cerita, jalannya cerita, aksi pemain, dialog yang dibangun, bahkan juga kostum yang dikenakan. Hal ini sebenarnya sejalan dengan pola pikir masyarakat Jawa yang umumnya cenderung filosofis dan tidak blak-blakan.

Tentu saja, jalan kritik yang dipilih pemain-pemain ludruk sangat menarik. Mereka bisa menertawakan nasib yang terkadang tidak berpihak pada kaum kecil dengan bentuk hiburan. 

Demikian beberapa ulasan tentang budaya ludruk yang menjadi salah satu kesenian paling tua di Indonesia dan masih ada hingga sekarang. Tentu, menambah pengetahuan tentang kesenian asli Indonesia menjadi hal yang penting untuk memperkaya wawasan dan memahami budaya bangsa sendiri.

Tagged in: